IMAMI (Identitas, Mayoritas, dan Minoritas)
![]() |
| link |
Identitas? Pengertian awal saya mengenai identitas adalah lebih kepada profil dari diri saya sendiri. Saat Sekolah Dasar saya diminta untuk mengenalkan identitas saya, yang saya katakan adalah nama saya, dan nama orang tua saya. Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), identitas yang saya berikan ketika orang bertanya adalah saya menyebutkan nama saya dan alamat rumah saya. Saat Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai sekarang, identitas yang saya berikan adalah nama saya, alamat rumah saya, agama saya, dan etnis saya. Dari beberapa tahap saya sekolah, ada kesamaan dalam pengucapan identitas yaitu “nama”. Tidak dapat dipungkiri bahwa nama adalah identitas saya yang paling utama. Kenapa yang lainnya bisa berbeda? Karena faktor lingkungan. Contohnya kenapa saat SMP saya tidak menyebutkan kembali nama orang tua saya sebagai perkenalan identitas saya? Karena menurut saya saat itu, saya merasa takut nama orangtua saya jadi bahan ledekan, karena masa-masa SMP adalah masa teriseng teman saya untuk meledeki nama orangtua. Dapat disimpulkan bahwa nama adalah identitas saya.
Menurut saya identitas juga bercermin pada yang lain atau the other. Identitas juga ada karena pengakuan dari orang lain terhadap saya. Centil? Kebanyakan orang yang sudah mengenaliku mengatakan bahwa saya adalah orang yang centil. Setiap ada yang menyinggung kata ‘centil’, teman-teman saya langsung berpikiran bahwa itu adalah saya. Sehingga saya merasa pengakuan yang sama dari orang lain mengenai diri saya juga termasuk identitas saya.
Mayoritas? Setiap mengatakan mayoritas saya langsung tertuju pada agama saya yaitu Islam. Saya merasa bahwa dari kecil sampai sekarang saya selalu berada pada orang-orang yang kebanyakan beragama Islam. Minoritas? Saya pernah mengalami posisi dimana saya ada dalam kelompok minoritas. Ingat sekali waktu SD, saya berempat dengan teman saya. Kami dianggap sebagai orang yang cupu sehingga teman-teman yang lain tidak ingin berteman dengan kami. Itu benar-benar hal yang paling tidak mengenakkan saat saya berada dalam kelompok minoritas. Karena ini, saya selalu berpendapat bahwa paling tidak menyenangkan jika kita berada dikelompok minoritas. Hingga saya memiliki pertanyaan kepada kalian sebagai pembaca, “Dapatkah kalian memberikan pengalaman yang menunjukkan bahwa ada saat dimana menjadi kelompok minoritas adalah hal yang menyenangkan?”. Tolong di share kepada saya J sehingga saya tidak under-estimate bahwa berada di kelompok minoritas adalah hal yang tidak menyenangkan J


0 komentar:
Posting Komentar