Selasa, 01 November 2011

Identitas Diri

IMAMI (Identitas, Mayoritas, dan Minoritas)

link


Identitas? Pengertian awal saya mengenai identitas adalah lebih kepada profil dari diri saya sendiri. Saat Sekolah Dasar saya diminta untuk mengenalkan identitas saya, yang saya katakan adalah nama saya, dan nama orang tua saya.  Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), identitas yang saya berikan ketika orang bertanya adalah saya menyebutkan nama saya dan alamat rumah saya. Saat Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai sekarang, identitas yang saya berikan adalah nama saya, alamat rumah saya, agama saya, dan etnis saya. Dari beberapa tahap saya sekolah, ada kesamaan dalam pengucapan identitas yaitu “nama”. Tidak dapat dipungkiri bahwa nama adalah identitas saya yang paling utama. Kenapa yang lainnya bisa berbeda? Karena faktor lingkungan. Contohnya kenapa saat SMP saya tidak menyebutkan kembali nama orang tua saya sebagai perkenalan identitas saya? Karena menurut saya saat itu, saya merasa takut nama orangtua saya jadi bahan ledekan, karena masa-masa SMP adalah masa teriseng teman saya untuk meledeki nama orangtua. Dapat disimpulkan bahwa nama adalah identitas saya.
Menurut saya identitas juga bercermin pada yang lain atau the other. Identitas juga ada karena pengakuan dari orang lain terhadap saya. Centil? Kebanyakan orang yang sudah mengenaliku mengatakan bahwa saya adalah orang yang centil. Setiap ada yang menyinggung kata ‘centil’, teman-teman saya langsung berpikiran bahwa itu adalah saya. Sehingga saya merasa pengakuan yang sama dari orang lain mengenai diri saya juga termasuk identitas saya.
Mayoritas? Setiap mengatakan mayoritas saya langsung tertuju pada agama saya yaitu Islam. Saya merasa bahwa dari kecil sampai sekarang saya selalu berada pada orang-orang yang kebanyakan beragama Islam. Minoritas? Saya pernah mengalami posisi dimana saya ada dalam kelompok minoritas. Ingat sekali waktu SD, saya berempat dengan teman saya. Kami dianggap sebagai orang yang cupu sehingga teman-teman yang lain tidak ingin berteman dengan kami. Itu benar-benar hal yang paling tidak mengenakkan saat saya berada dalam kelompok minoritas. Karena ini, saya selalu berpendapat bahwa paling tidak menyenangkan jika kita berada dikelompok minoritas. Hingga saya memiliki pertanyaan kepada kalian sebagai pembaca, “Dapatkah kalian memberikan pengalaman yang menunjukkan bahwa ada saat dimana menjadi kelompok minoritas adalah hal yang menyenangkan?”. Tolong di share kepada saya J sehingga saya tidak under-estimate bahwa berada di kelompok minoritas adalah hal yang tidak menyenangkan J

Selasa, 04 Oktober 2011

Please call me, Hani :)

      Namaku Hani. Itu lah nama panggilan yang selalu saya dengar dari orangtua dan kakak untuk memanggil saya. Nama lengkapnya adalah Ewa Hanifa Hasmaningrum. Saya merasa bahwa nama saya cukup normal untuk dijadikan nama lengkap. Tetapi kebanyakan orang selalu bilang kalau nama saya terlalu panjang. Merasa senang memiliki nama yang katanya seperti kereta :D. Jujur saja, saya tidak memiliki penasaran sebelumnya kenapa orangtua saya memberi nama saya seperti itu, sampai akhirnya ada yang mempertanyakan arti nama saya. Saya pun menjadi ingin tahu apa sejarah orangtua saya memberikan nama itu.
      Ewa, itu adalah nama depan saya, dikarenakan nama depan saya itu Ewa, banyak orang-orang yang baru mengenali saya terutama guru memanggil saya “Ewa”. Jujur saja saya tidak suka apabila orang memanggil saya Ewa, karena saya merasa nama panggilan saya dari kecil adalah Hani bukan Ewa L. Sering kali saya meminta untuk dipanggil Hani, tapi orang pun tetap memanggil saya Ewa. Kenapa saya tidak suka orang memanggil saya Ewa? Ewa adalah nama singkatan dari orangtua saya (Eka dan Wati). Entah bagaimana mereka bisa terpikir untuk menjadikan nama mereka menjadi nama depan saya. Bukan karena nama mereka yang jelek, tetapi karena kalau orang memanggil saya Ewa berarti mereka memanggil orangtua saya. Beberapa teman saya juga ada yang berpikiran bahwa nama saya itu ANEH, malah terkadang jadi bahan ledekan. Itulah alesan saya kenapa saya tidak menyukai orang memanggil saya Ewa, sampai saat ini.
      Saya rasa hanya Ewa yang diberikan oleh orangtua saya. Karena Hanifa dan Hasmaningrum adalah pemberian dari almarhum om saya. Saya beruntung memiliki om yang memberikan nama indah untuk saya. Saya berpikir, kalau tidak ada om saya, entah nama apa yang diberikan oleh orangtua saya (orangtua sepertinya kurang ahli untuk memberikan nama L). Hanifa yang berarti berbudi pekerti yang lurus. Om saya berharap saya kelak memiliki budi pekerti yang baik.
      Selanjutnya, Hasmaningrum. Hasma adalah singkatan nama dari kedua kakek saya yaitu Hasan dan Darmawiyoto. Ningrum adalah panggilan untuk perempuan Jawa.  Itulah segelumit sejarah arti nama saya. Saya merasa senang dengan nama Ewa Hanifa Hasmaningrum. Sayapun tidak berniat buat mengganti nama sampai kapanpun karena saya percaya nama tersebut adalah nama yang terindah yang diberikan orangtua dan om saya J.
      Walau bagaimanapun, saya tetap berharap orang-orang dapat memanggil saya Hani bukan Ewa ataupun yang lainnya. So, PLEASE CALL ME HANI J J J

Minggu, 25 September 2011

Ekspektasi terhadap Humanistis Studies dan Tanggapan Pribadi Terhadap "Yang Lain"


Humanistic studies? Itu adalah mata kuliah saya di Semester 3. Saat saya mengetahui ada mata kuliah Humanistic Studies, yang saya pikirkan saat itu adalah mata kuliah tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Bagaimana bersosialisasi antar manusia, ini sangat penting buat diri saya. Terkadang saya sulit untuk menempatkan posisi saya saat berada di suatu perkumpulan yang baru saya ikuti.

Saat memasuki kelas pertama Humanistic Studies, saya dan teman-teman di tanyakan oleh dosen “siapa yang berasal dari Jawa, Sumatera, dan Kota lainnya?”. Di situ dengan yakin kami menjawab “saya orang Jawa, Padang, dan yang lain”. Tapi ada salah satu teman kami yang menjawab bahwa dia bingung dia itu asli dari mana, karena memiliki asal orang tua yang berbeda, serta tempat tinggal yang berbeda. Lalu saya berpikir bahwa ternyata saya sama dengan dia. Sehingga pada mata kuliah Humanistic studies, kami dapat mengetahui apa identitas kami yang sebenarnya.

Dalam Humanistic Studies juga akan disinggung mengenai persoalan agama secara umum. Saat menyinggung kata agama, saya merasa ragu bahwa ini akan dibahas dalam mata kuliah ini. Sejak saya sekolah sampai Sekolah Menengah Atas, saya selalu belajar agama dengan yang seagamanya saja. Sedangkan di kelas Humanistic Studies, ada beragam macam agama yang berbeda, apa nantinya tidak akan menimbulkan kontroversi antar agama? Itulah pertanyaan yang timbul dalam hati saya saat itu, bahkan sampai sekarang. Sehingga membuat saya penasaran untuk pertemuan berikutnya pada mata kuliah Humanistic Studies.

Akhir-akhir ini semakin banyak kericuhan antar kampung, antar suku, bahkan antar agama. Pernah di dekat daerah rumah saya, ada yang membakar semua toko yang dimiliki oleh orang Madura, itu disebabkan oleh kesalahpahaman antara orang Madura dengan orang Jawa. Sangat disayangkan kalau ada permasalahan seperti itu. Dengan humanistic studies, saya dapat mengetahui bagaimana bersosialisasi dengan yang berbeda suku dan agama dengan saya. Sehingga permasalahan yang terjadi diatas tidak terjadi kembali.

Template by:

Free Blog Templates